Rabu, 20 Mei 2015
Jumat, 09 Januari 2015
Rabu, 10 Desember 2014
Pekan Budaya dan Kontes Kecantikan ?
Setiap tahun fakultas adab dan ilmu budaya UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta rutin mengadakan apresiasi budaya yang dinamai pekan
budaya. Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan pekan budaya tahun ini, yaitu
diselenggarakannya ajang kontes kecantikan/ miss misan yang bertajuk ’miss
muslimah’. Yang menjadi pertanyaan adalah apa relevansinya antara pekan budaya
dengan miss muslimah. Apakah ajang miss misan merupakan bagian dari budaya
bangsa yang perlu untuk diapresiasikan, atau ia mungkin merupakan budaya jawa
atau budaya nusantara yang kebetulan terselenggara di kota budaya Yogyakarta.
Atau ia merupakan budaya Islam atau budaya arab yang dibawa islam karena kontes
ini diadakan di universitas islam. Tidak, kontes ini bukanlah merupakan budaya
jawa, nusantara, atau budaya arab dan pasti bukan merupakan budaya islam.
Kontes ini merupakan modifikasi dari kontes miss misan diluar sana yang berakar
dari budaya barat yang ketika masuk sebuah kampus islam harus berubah nama
menjadi Miss Muslimah.
Jika ditilik dari sejarahnya kontes
kecantikan pertama kali diadakan di
Amerika pada tahun 1854. Namun kontes kecantikan itu ditutup karena adanya protes
publik.Dan uniknya panitia penyelenggara kontes
kecantikan yang pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses sukses menggelar
kontes kecantikan untuk hewan, anjing dan burung.Kemudian kesuksesan itu di uji
cobakan untuk manusia.
Kontes kecantikan yang bertajuk miss muslimah tersebut
mungkin merupakan bentuk kelatahan terhadap tren modern saat ini. Dimana setiap
kelompok, komunitas, daerah, Negara bahkan dunia sedang mencoba untuk
memeperkenalkan/mempromosikan diri mereka dengan megadakan kontes miss misan
tersebut. Banyak mungkin yang berpendapat ajang ini bisa mendongkrak pamor
kampus, menaikkan citra kampus di mata masyarakat luas, dan dengan dalih kontes
ini tidaklah menjadikan kecantikan sebagai kriteria utama. Jika kontes ini bisa
menaikkan citra kampus, lantas citra macam apa yang hendak dinaikkan. Citra pendidikannya,
citra kampus yang beradab, atau mungkin hanya citra kecantikan pesertanya saja.
Citra macam apa yang hendak ditunjukkan dengan memamerkan kecantikan wanita di
depan publik, dengan berlengak-lenggoknya mis misan itu diatas panggung. Apakah
itu yang hendak dicitrakan oleh sebuah kampus islam, dengan meniru budaya barat
semacam itu yang hanya merubah konteks saja.
Sabtu, 12 Juli 2014
SYAHRINI DAN GAYA BAHASANYA
Dewasa ini
bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini tidak lepas dari cepatnya
perkembangan di dunia teknologi khususnya di bidang media, seperti semakin
banyaknya stasiun televisi, radio, berita online, jejaring sosial dan
sebagainya. Pada era teknologi seperti sekarang, semakin mudah untuk mendapat
informasi dan mengekspresikan apa yang diinginkan. Hal ini tentu saja
berpengaruh pada perkembangan bahasa, seperti munculnya bahasa gaul dari sinetron, kata-kata baru yang dimunculkan
para selebritas, banyak istilah-istilah asing dan sebagainya. Media yang
menjadi suatu model bagi perilaku masyarakat memberikan suatu pengaruh besar
terhadap pergeseran Bahasa Indonesia. Pemakaian
bahasa yang tepat dalam media massa akan memiliki dampak yang positif dalam
pemakaian bahasa masyarakat. Sebaliknya, jika bahasa dalam media massa kacau,
akan memberikan pengaruh yang negatif, terutama bagi mereka yang tidak tahu
akan kaidah bahasa.
Salah satu selebritas yang rajin memunculkan istilah atau kata-kata
baru adalah Syahrini, misalnya kata “cetar membahana badai”. Jika dianalisis
kata “cetar” berarti tiruan bunyi cambuk yang dipukulkan, “membahana” berarti
bergema atau berkumandang, dan “badai” artinya angin kencang yang menyertai
cuaca buruk. Lantas apa maknanya secara keseluruhan? Walaupun kata-katanya enak
didengar tapi maknanya tidak jelas. Syahrini sendiri mengunkapkan bahwa kata
cetar membahana badai adalah ungkapan untuk sesuatu yang luar biasa atau hebat.
Selain “cetar membahana badai”, Syahrini juga pernah menjadi fenomena karena
kata “sesuatu” dan “alhamdulillah yah”. Fenomena penambahan kata “sesuatu” di
hampir tiap kalimat yang dia katakan sebenarnya merupakan gejala yang hampir
sama dengan Vicky, yaitu penggunaan sebuah kata yang tidak tepat pada tempatnya.
Selain hal di atas, dalam sebuah video wawancara yang berjudul video sok intelek
syahrini 2013 yang dapat di saksikan di youtube , Syahrini banyak
menggunakan kata dalam bahasa Ingris yang tidak tepat. Syahrini mengucapkan kata
“poloshot”, yang seharusnya "follow shot”, dan “confie” yang dimaksud
“comfort”. Selain itu, ia juga melafalkan kata “mandarin” dengan kata
“mandern”, dan “famous” dengan “vimes”. Lalu ia menyebut kata “speech” yang
berarti pidato dengan kata “speechman”. Masih dalam wawancara tersebut,
Syahrini mengaku tidak ingin disebut Go Internasional karena konsernya masih
berada di wilayah Asia. Namun lucunya,ia menyebut negara-negara Asia Tenggara,
sebagai negara Asia Timur. “Ini kan skupnya masih Asia Timur, Japan, Hongkong,
Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia,” kata Syahrini. Lucunya lagi, ia
hanya ingin debut konsernya di Singapura itu disebut sebagai ‘Go Asianel’.
“Insya Allah kalau go asianel,” papar Syahrini.
Jumat, 28 Maret 2014
EDUCATION FOR ALL___ PROMOTING ACCESSIBILITY ON CAMPUS
A Narration of the Video:
ON DISABILITY
Who are disabled persons?
We are all physically disabled at some time in
our lives. A child, a person with a broken leg, a parent with a pram, an elderly
person, etc. are all disabled in one way or another.
According to World Healt Organization Individuals with
disabilities are defined as those with physical, sensory, emotional,
intellectual, learning, health or other disabilities that may be visible or
invisible, stable or progressive, occurring at birth or during childhood
Problems
According to article 31 of the 1945 national
constitution of Indonesia, education is a right for every citizen, while the
government shoulders the responsibility to provide it.
In Indonesia, people with disabilities are protected by the 1997
Law No. 4 that recognizes equal opportunities in all aspects of life. Article 6
(1) of that same law guarantees appropriate education services for all people
with disabilities at every level of education.
According to Helen Keller International in 2010, less than 4% of
1.5 million of children with disabilities have access to educational services
in Indonesia.
college education is a stage that cannot be enjoyed by a majority
of young people with disabilities in Indonesia.
In general, the problems that disabilities
face to study in university are :
- A difference curiculum between spechial school make the difable get some problems to do the entrance university exam
- Not every university are able to provide special facilities for difables
- Many people don’t have awareness to treat difables in the right way, so there some discriminations that difables feel because of the university personal.
Overall, the problems that
difables faced to study in university are
relative to rights, policies, and equal opportunities for students with
disabilities include: (a) poor inclusive policies from both the Ministries of
Education and Religious Affairs to guide universities and colleges, (b) no follow-up
on the implementation of laws such as the Indonesian regulation guaranteeing
accessibility to public spaces which has still yet to be executed, (c) no
sensitivity training for staff to learn how to teach people with special needs
in inclusive settings, and (d) limited budget in supporting access and
entitlement to education.
most people with disabilities in Indonesia do not speak up or
fight for their rights. It could be one of the reasons why campuses are still
far from being inclusive despite a handful of advocating students with
disabilities.
Solution
Accessibility on campus – PLD (pusat
layanan difabel / CENTER FOR DISABILITIES STUDIES AND SERVICES)
Each university must establish an Office for Students with
Disabilities to clearly be pro-active. The mission of such office is to provide
support for students with disabilities to respond to individual needs and to
encourage independence and empowerment while respecting the academic
requirements of the university. The inclusion of students with disabilities has
to be facilitated by skilled staff able to support this multi-faceted process.
One of the university that established the Centre for Disability Studies and Services is State Islamic University (UIN)
Sunan Kalijaga, the first centre of its kind in Indonesian tertiary/higher education.
CENTER FOR DISABILITIES STUDIES AND SERVICES , TO PROVIDE HIGHER EDUCATION FOR ALL!
CENTER FOR DISABILITIES STUDIES AND SERVICES was established in 2007 in the
UIN Sunan Kalijaga State Islamic University and is the first of its kind in
Indonesia.
Sabtu, 19 Oktober 2013
Mengenal Deklinasi Matahari, Penyebab Cuaca Panas di Jogja
Sejak Kamis (17/10) cuaca panas melanda Jogjakarta. Suhu udara yang tercacat oleh BMKG Jogjakarta mencapai 37 derajat celcius dengan kelembaban 40 persen. Padahal, biasanya suhu di Jogja rata-rata hanya 32 derajat celcius dengan kelembaban 80 persen.
Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jogjakarta, Tony Agus Wijaya, penyebab cuaca panas di Jogja adalah deklinasi matahari. Deklinasi matahari, katanya, berdampak pada berkurangnya kelembaban udara yang berpotensi timbulnya angin kencang seperti yang dirasakan masyarakat pada Kamis pagi hingga siang. “Matahari mulai berada di atas Jogjakarta sejak tanggal 14 Oktober dan perlahan dalam dua minggu kedepan akan bergerak ke selatan. Ini berpotensi menimbulkan angin kencang” paparnya.
Dari sudut pandang klimatologi, deklinasi matahari adalah gerak semu matahari yang disebabkan oleh miringnya sumbu kutub rotasi bumi yang mencapai 23,5 derajat. Akibat kemiringan , Matahari seolah- olah bergeser dari Utara ke Ekuator, ke Selatan, ke Ekuator kembali, dan seterusnya selama setahun.
Deklinasi matahari maksimal berada di 23,5 derajat di utara dan minus 23,5 derajat di Selatan. Artinya, Artinya, setiap daerah di muka bumi yang berada pada lintang antara 23,5 derajat hingga lintang minus 23,5 derajat─pada tanggal tertentu─ matahari tepat berada di puncak langit. Jogjakarta sendiri terletak pada 8 hingga 9 derajat lintang selatan sementara saat ini matahari berada pada posisi 8 derajat LS. Inilah penyebab mengapa deklinasi matahari sebabkan Jogja panas.
Dampak berkurangnya kelembapan udara menjadi 40 persen seperti kata Tony memang berdampak buruk bagi Jogja. Sebab, menurut Ance Gunarsih dalam Klimatologi: Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman bahwa semakin berkurangnya kelembaban udara, maka potensi kekeringan di suatu daerah menjadi besar. Pasalnya besar kecilnya kelembaban udara memengaruhi curah hujan di suatu daerah.
Sumber : http://beritajogja.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)

