Pages

Sabtu, 03 Juni 2017

Terorisme Bukan Islam ( Jihad ≠ Teror )


Setelah tragedi 11 september 2001 (9/11), banyak pihak yang mengaitkan antara Islam dan terorisme. Sentimen negatif terhadap Islam menjadi semakin besar, Islam selalu diidentikkan dengan kekerasan dan konsep jihad dalam Islam sering diterjemahkan menjadi tindakan terorisme seperti pemboman dan pembajakan pesawat pada tragedi 9/11, yang menghancurkan gedung World Trade Center (WTC) dan juga gedung pertahanan Amerika Serikat Pentagon. Mereka beranggapan bahwa konsep jihad dalam Islam adalah sumber dari terorisme.

‘Jihad berasal dari bahasa arab “jahada” yaitu suatu perjuangan keras untuk mencapai suatu cita-cita. Menurut pengertian asalnya, jihad itu berarti berjuang dan berperang melawan kemiskinan, kedzaliman, kebodohan, dan kekerdilan akidah, demi mencapai kejayaan hidup yang wajar. Nabi Muhammad SAW. Pernah bersabda : “jihad yang paling besar ialah perang melawan hawa nafsu” (HR. Muslim).’[1]

‘Dalam al-Quran, jihad yang berarti pertempuran,dinamakan dengan “qital” (berbunuhan) terhadap orang kafir yang telah memaklumkan perang terhadap muslim. Salah satu ayat-Nya berbunyi : Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Al-Hajj : 39-40)’

Jumat, 02 Juni 2017

Blusukan and Servant Leader

The term ‘blusukan’ has become popular since Joko Widodo known as ‘Jokowi’ was being inaugurated as Jakarta Governor. Jokowi used blusukan as his leadership style. According to what jokowi has done, blusukan is directly comes to the people’s place especially the grassroot ( wong cilik), in slums area, rivers side, garbage dumps, and others to know what are their problems and have a dialogue with the people in order to make the right policy. More or lees this style of leadership has sent Jokowi to Win the race of Presidential election in 2014. Regardless that jokowi used blusukan as an image or not, but this leadership style is very effective and loved by the people. This is an effective style because the leader can know the problem faced by the people exactly, not just from the report from the bureaucreacy because we know that sometimes the bureaucreacy just reports the good thing as ‘ABS’ (asal bapak senang) in indonesian term. This essay will try to look the similiarity of blusukan and servant leader as a concept of Islamic leadhersip style.

            Blusukan is a Javanese word, blusukan comes from the main word ‘blusuk’ which means “mlebu ing’ in Javanese or entry (come in), and then plus suffix –an becoming blusukan, this means an activity done by someone to enter some places in order to get something. As leadhersip style Blusukan means a style of leadership that comes to the people place directly in order to know, to hear, to talk, with the people to make a good policy to inspire development programs that will be implemented, and to know the effect of the programs that being implemented or as an evaluation of program  that is applied. So the blusukan needs the leader to come to the people place, not the opposite. The leaders in blusukan point of view are becoming a servant of the people. So the leaders serve the people not the people serve the leader.

            Leader and Leadership are very important in Islam. In most circumstances in life, Muslims are urged to appoint a leader and to follow him. According to the Prophet Muhammad SAW, Muslims must appoint a leader during a trip, select a leader to lead the prayer, and choose a leader for other group activities. One of the concepts of leadership in Islam is servant leader, a leader who serves for his follower. Servant leader is an Islamic leadership style, as what Prophet Muhammad once said “The servant of the people is their leader”. According to this, the whole purposes of leadership are to serve the people. One of the leaders in Islamic history that implemented the concept of servant leader is umar ibn Al-khattab. Umar is the figure of a leader who understood the interest and the needs of his people, although he lived in poor condition. Umar often got around and investigated the condition of his people in the night, this what we know as ‘blusukan’. So, Blusukan has sameness with the servant leader. Both of them are oriented to the people’s need and interest.

AkU

aku mundur dari medan pertarungan sebelum perlawanan dikobarkan
aku terdiam sebelum sempat mengutarakan
aku berlari tanpa paksaan dan berhenti oleh keadaan
aku mengejar yang tak terkejar

aku hilang tertelan peradaban
aku ada tapi tak berada
aku tampak tapi tak tertampak

aku datang tak berjejak hilang tak bermakna



M.A
05-08-2015

Selasa, 30 Juni 2015

Kala (h)

Kala cinta memanggilmu
Kala rasa merasuk di sukmamu

Kala sang waktu mengelak
Kala sang bidadari enggan menyapa

Berlari, menjauh, menghindar
Sesak kalbu tercabik sukma

Pesonanya tak sirna
Relung jiwa tlah dirasuki rasa




M.A
21-02-2015
Sulit bagiku menghapus bayangmu dalam rasaku
Kehadiranmu tak pernah kuminta
Menghilangkanmu terasa perih dijiwa
Kaulah kembang hatiku

Semerbakmu memabukan
Keindahanmu menyilaukan
Pagar fatamorganamu membuatku terlempar
Tak sanggup aku menggapaimu


Mengagumi dalam diam pesonamu



M.A
28-12-2014

Selasa, 23 Juni 2015

Catatan

 #Absurd  #GakNyambung #Stress

Suatu kebiasaan akan susah untuk dirubah tanpa adanya suatu niat, tekad, dan tindakan yang konsisten. Inkonsistensi dalam bertindak terkadang menyebabkan hal-hal yang tidak diharapkan. Pengharapan akan suatu keadaan yang baik, baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang, terkadang membuat manusia tidak logis dalam berpikir apalagi bertindak. Suatu tindak tanpa dasar pikiran yang logis justru akan membuat manusia terjatuh ibarat menggali lubang kubur sendiri. 
Namun pola pikir seseorang memang selalu tidak konsisten, hal itu terjadi karena manusia tidak hidup sendirian, seperti yang sering disebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mahluk yang senantiasa terpengaruh oleh mahluk yang lain baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Berkaca pada hal tersebut, sekiranya terjadi suatu keadaan yang membuat manusia mengalami perubahan, baik pada pola pikir maupun pada pola hubungannya, tentu manusia akan senantiasa menyesuaikan dirinya baik dengan sesama manusia maupun dengan lingkungannya.
Pola interaksi manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya, hanya dapat bersinergi dengan baik manakala ada pengertian diantara mereka. Pengertian yang saling memahami dan menghargai. Pengertian yang menempatkan diri mereka dalam keadaan sejajar, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Hanya dengan pengertian inilah pola hubungan melingkar antara manusia-lingkungan-manusia akan tetap berlangsung dengan baik selama tidak ada faktor dari luar yang mempengaruhinya. 
Faktor penghambat dalam melestarikan hubungan ini bisa timbul dari dalam dan bisa saja timbul dari luar, akan tetapi yang paling menentukan adalah pihak-pihak dalam pola hubungan itu, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai pihak internal, dibanding dengan pihak luar dari pola tersebut,yang selanjutnya akan disebut sebagai pihak eksternal, karena pihak eksternal hanya dapat mempengaruhi pola hubungan itu jika ada pihak internal yang melibatkannya. 
Pihak eksternal tidak akan bisa dengan serta merta maupun dengan sendirinya melakukan pengaruh terhadap pola hubungan tanpa adanya izin dari pihak internal, sebab jika pihak eksternal masuk tanpa izin, maka dengan sendirinya kekuatan pengaruhnya tidak akan berdampak apapun. 
Inilah pentingnya dan mutlak pentingnya untuk selalu menjaga keharmonisan antar pihak internal, karena hanya dengan cara inilah pola hubungan tersebut akan tetap seimbang dan tetap lestari demi mencegah terjadinya kehancuran peradaban yang tidak diinginkan.



 #SEMANGAT   #SokBijak    #Nasionalis


Ayo bangsa indonesia, mari kita bersama-sama saling bergandeng tangan, kita singsingkan lengan baju, berjuang bersama membangun peradaban baru, satu peradaban yang kita cita-citakan bersama. Satu peradaban yang akan membawa bangsa ini mengecap manisnya kehidupan, dimana setiap manusia indonesia dapat merasakan kesejahteraan, terbebas dari belenggu ekonomi yang selama ini menjerat kita semua.

Bangunlah wahai kau pemuda indonesia, bangkitlah kau dari tidur panjangmu, bersiaplah kau untuk meneruskan estafet perjuangan, estafet pembangunan, berlarilah wahai pemuda-pemudi indonesia, dibelakangmu telah siap ratusan juta orang untuk kau gerakkan bersama-sama membangun peradaban baru, menciptakan satu indonesia baru…

Masa depan bukanlah untuk direnungkan, dan bukan hanya sekedar direncanakan. Jemputlah masa depan itu wahai pemuda indonesia, derapkanlah langkah kakimu dengan keyakinan, ayunkan tanganmu dengan ketegaran, tataplah masa depan itu dengan penuh sinar kemenangan. Sungguh aku telah melihat kemenangan kita, kemenangan yang akan kita jemput, yang akan kita perjuangkan bersama-sama… ayo bangkit, dan majulah indonesiaku….


M.A
(6-04-2015)